Aku sudah terbiasa dengan kesepian tanpa dirimu.
Melewati hari-hari dengan lagu sendu karenamu.
Pertemuan kita yang terjadi sangat jarang membuatku berpikir apakah aku bisa memilikimu.
Tatap muka kita yang sangat jarang membuatku berpikir apakah kelak aku bisa bersamamu.
Semenjak pertemuan kita yang terakhir, berpuluh-puluh hari yang lalu, banyak masa yang aku lewati.
Kesepian yang selalu menjadi bayang-bayangku kini tak lagi mengikutiku.
Bayang-banyang kenangan kita tak lagi menjadi alasan aku untuk larut dalam kegalauanku.
Tanpamu aku bisa melawati hariku dengan canda tawa senyuman.
Melalui orang-orang di sekelilingku aku mulai bisa mengikhlaskanmu.
Dan akhirnya aku berpikir untuk melepaskanmu,
melupakan semua mimpi-mimpi dan harapanku untuk bisa bersanding bersama kelak.
Banyak pria lain yang mampu membuatku tersenyum sama seperti aku tersenyum saat memikirkanmu.
Aku pun menyadari sudah sepantasnya aku mencoba membuka hatiku kembali.
Meski satu ketakutanku yang selalu membuatku resah,
apakah aku yakin benar-benar bisa melepaskanmu dan menjatuhkan hati ini pada yang lain.
Doa pun aku panjatkan, lagi-lagi aku menyebut namamu dalam doaku.
Aku meminta pada Tuhan untuk menunjukkan jalanNya agar tak ada keresahan lagi di hati ini.
Jika memang kamu bukan untukku aku meminta agar Tuhan membantuku untuk melepaskanmu,
dan mempertemukan dengan nama lain.
Namun jika kamu memang untukku biarlah Tuhan mempertemukan kita kembali.
Aku sadari sudah terlalu lama aku menunggumu, menunggu kamu yang tak pernah merasa ku tunggu.
Menunggu kedatanganmu yang mungkin tak pernah datang di sini.
Sudah saatnya aku melepaskan semua yang telah aku perjuangkan ini.. kamu
Walau sampai saat ini aku belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikanmu
Walau sampai saat ini aku belum tahu ke mana aku akan berjalan
namun aku yakin Tuhan akan menyertaiku setiap langkahku ini untuk menjauhi bayang-bayangmu.