Aku pernah bermimpi.
Kata Tuhan aku harus menyelesaikan segala tanggungjawabku terlebih dahulu,
setelah itu Dia akan menjawab pertanyaanku.
Pertanyaan apakah aku bisa bersamamu.
Kamu yang menjadi motivasiku untuk menyelesaikan studiku.
Kamu yang menjadi penyemangat untuk menyelesaikan baris-baris skripsiku.
Bukan alasan utama; karena alasan pertama mengapa aku harus menyelesaikan semua itu,
tentu karena orangtuaku dan masa depanku sendiri.
Meski; mungkin kamu tidak tau apa yang sedang ku kerjakan,
atau bahkan kau sudah tak peduli lagi denganku.
Kau tau aku pernah berandai-andai atau bahkan berbisik kepada Tuhan,
aku ingin saat itu kau datang saat wisudaku.
Sebuah kekonyolan karena bahkan kau tak pernah tau aku sekarang sudah wisuda.
Hari bahagiaku sudah tiba; akhirnya aku menyelesaikan semua tanggungjawabku sebagai mahasiswa.
Akhirnya aku memberikan kado kelulusan untuk orangtuaku.
Setelah hari bahagia itu aku bertanya kepada Tuhan,
mana jawaban yang Kau janjikan padaku?
Aku akhirnya menemukan jawaban yang selama ini ku cari,
Aku bertemu denganmu lagi setelah sekian purnama,
kau membawa kabar bahagia bahwa kau sudah menemukan tambatan hatimu
yang lalu ku ketahui kau akhirnya menikah dengannya
Apakah aku harus kecewa?
Apakah aku harus larut dalam kesedihan?
Apakah aku harus melewati hidup penuh rasa galau?
Tidak aku tidak perlu merasakan seperti itu
Kau tau aku justru lega mengetahui kabar bahagiamu itu
Ada rasa lega karena sudah tak ada alasan untukku harus bertahan dengan perasaanku sendiri
Ada rasa lega ketika aku tau penantianku harus berakhir sampai sini
dan sekarang aku bisa ikhlas melepaskanmu karena kamu bukan orang yang dipilih Tuhan untukku
Aku bersyukur Tuhan menguatkan hatiku seperti ini
Dia melepaskan bebanku dan memulihkan hatiku
Dia memantapkan diriku untuk terus berjalan ke depan
karena hidupku harus terus berjalan meski tanpamu.